This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 08 Agustus 2012

MADILOG

    Materialis, dialektika dan logika. merupakan sebuah buku karya pejuang besar bangsa indonesia yang memiliki idealisme Komunis dimasanya.
untuk lebih jelasnya silahkan anda membaca buku dalam bentuk ebook dibawah ini

(silahkan klik gambar diatas untuk mengakses ebook madilog dan semoga bermanfaat)

Rabu, 06 Juni 2012

Just KIDDING if U FUN


 by : hendy preketek

sepintas seorang manusia memang unik dan rumit. karena terdiri dari cipta, rasa, karsa, dan karya namun menurut pakar  # NICOLAUS D. & A. SUDIARJA#
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang. 
tak di pungkiri walaupun banyak mekanisme yang bekerja baik biopsikososiospiritual namun kinematics juga berperan di dalam tubuh manusia..hey..potensi dan taste jangan sampai terhalang entah ID, ego apapun lah..superego saatnya jadi landasan..tinggal pilih saja mengalir apa adanya ataukah membuat jalan sendiri??..up to u mas bbroo..saat curhat dengan bung adit dan bung erwin (Charles Erwin), bahwa di ujung mata terdapat gunung resiko yang besar maka tajamkanlah mata dan tancapkan panah keberanaian sampai hancur gunung resikonya sehingga yang di dapat adalah kesuksesan.. menarik bukan..ingat manusia identik dengan keunikan dan kelihaian jangan takut untuk menjadi manusia dengan resiko yang besar..mahasiswa koq..maju terus awas jurang ..ahayy

GmnI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia)

            Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, atau disingkat GMNI, lahir sebagai hasil proses peleburan tiga organisasi mahasiswa yang berasaskan Marhaenisme Ajaran Bung Karno. Ketiga organisasi itu ialah:
·         Gerakan Mahasiswa Marhaenis, berpusat di Jogjakarta
·         Gerakan Mahasiswa Merdeka, berpusat di Surabaya
·         Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia, berpusat di Jakarta.
Proses peleburan
            Proses peleburan ketiga organisasi mahasiswa mulai tampak, ketika pada awal bulan September 1953, Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) melakukan pergantian pengurus, yakni dari Dewan Pengurus lama yang dipimpin Drs. Sjarief kepada Dewan Pengurus baru yang diketuai oleh S.M. Hadiprabowo.
            Dalam satu rapat pengurus GMDI yang diselenggarakan di Gedung Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tercetus keinginan untuk mempersatukan ketiga organisasi yang seasas itu dalam satu wadah. Keinginan ini kemudian disampaikan kepada pimpinan kedua organisasi yang lain, dan ternyata mendapat sambutan positif.
Deklarasi
            Setelah melalui serangkaian pertemuan penjajagan, maka pada Rapat Bersama antar ketiga Pimpinan Organisasi Mahasiswa tadi, yang diselenggarakan di rumah dinas Walikota Jakarta Raya (Soediro), di Jalan Taman Suropati, akhirnya dicapai sejumlah kesepakatan antara lain:
1.      Setuju untuk melakukan fusi
2.      Wadah bersama hasil peleburan tiga organisasi bernama "Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia" (GMNI).
3.      Asas organisasi adalah: Marhaenisme ajaran Bung Karno.
4.      Sepakat mengadakan Kongres I GMNI di Surabaya, dalam jangka waktu enam bulan setelah pertemuan ini.

Hari lahir/ Dies Natalis GMNI tanggal 23 Maret 1954
Adapun pimpinan ketiga organisasi tersebut adalah
1.       Gerakan Mahasiswa Merdeka
-. Slamet Djajawidjaja, Slamet Raharjo, Heruman
2.       Gerakan Mahasiswa Marhaenis
-. Wahyu Widodo, Subagio Marsukin, Sri Sumantri marto Suwignyo
3.       Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia
-. S.M Hadi Prabowo, Djawadi Hadipradoko, Sulomo
Kongres-Kongres GmnI
1.       Kongres I GMNI di Surabaya 1954
2.       Kongres II GMNI di Bandung 1956
3.       Kongrres GMNI III di Malang 1959
4.       Konferensi Besar GMNI di Kaliurang Jogjakarta 1959
5.       Konferensi Besar GMNI di Pontianak 1965
6.       Kongres V GMNI di Salatiga 1969 (seharusnya di Jakarta pada tahun 1965, karena ada G30 S/PKI gagal)
7.       Kongres VI GMNI di Ragunan –Jakarta 1976
8.       Kongres VII GMNI di Medan 1979
9.       Kongres VIII GMNI di Lembang Bandung 1982 (seharusnya di Jogjakarta, gagal akibat protes cabang-cabang)
10.   Kongres IX GMNI di Samarinda 1985
11.   Kongres X GMNI di Salatiga 1989
12.   Kongres XI GMNI di Malang 1992
13.   Kongres XII GMNI di Denpasar-Bali 1995
14.   Kongres XIII GMNI di Kupang-NTT 1999
15.   Kongres Luar Biasa (KLB) di Semarang 2001 ( kubu KLB )
16.   Kongres XIV GMNI di Manado tahun 2003 ( kubu kupang )
17.   Kongres di Medan tahun 2004 ( Kubu KLB )
18.   Kongres XV di Pangkal Pinang tahun 2006 ( Kongres Persatuan GMNI antara Kubu Kupang dengan KLB )
19.   Kongres XVI di Bogor tahun 2008.

Azas GmnI
AZAS MARHAENISME yaitu Sosio Nasionalisme, Sosio Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Motto Perjuangan GmnI
            Motto perjuangan GMNI adalah PEJUANG PEMIKIR-PEMIKIR PEJUANGYang memiliki arti Pejuang Rakyat yang selalu memikirkan perjuangan dan kelanjutan perjuangannya dan pemikir (intelektual) yang selalu mengabdikan ilmunya untuk perjuangan rakyat sepenuhnya.
Tujuan GmnI
            Organisasi yang bertujuan mendidik mahasiswa Indonesia untuk menjadi kader bangsa yang berjiwa nasionalis dan berwatak kerakyatan dalam mewujudkan masyarakat sosialisme Indonesia
Arah Perjuangan GmnI
            Sebagai organisasi perjuangan maka setiap kader GMNI tidak saja dituntut berjuang dan berpihak pada kepentingan rakyat tetapi sekaligus berjuang bersama-sama rakyat untuk melawan segala macam bentuk penindasan yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan feodalisme.
Sifat GmnI
            GMNI adalah organisasi yang bersifat INDEPENDEN artinya secara organisatoris GMNI tidak berafiliasi kepada salah satu kekuatan politik tertentu, Namun secara personal kader GMNI bebas menyalurkan aspirasi politiknya pada kekuatan sosial politik apapun.
Struktur Organisasi GmnI
Tingkat Nasional                     : PRESIDIUM GMNI
Tingkat Daerah                       : KORDA (Koordinator Daerah)
Tingkat Kota                           : DPC (Dewan Pimpinan Cabang)
Tingkat Fakultas/Kampus       : Pengurus Komisariat
Makna Lambang GmnI
1.     Perisai
-       Melambangkan perisai atau benteng terhadap kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan feodalisme
-       Melambangkan kepeloporan GMNI
-       Segi enam (tiga sudut atas adalah trisakti pancasila, tiga sudut bawah adalah tri dharma perguruan tinggi)
2.     Bintang, Melambangkan Ketuhanan Yang maha Esa
3.     Kepala Banteng Miring kekiri, Sebagai lambang atau simbol kekuatan rakyat
4.     Warna Merah, Melambangkan keberanian
5.     Warna Putih, Melambangkan kesucian perjuangannya

Nilai-Nilai Dasar Perjuangan GmnI
GMNI adalah Organisasi Mahasiswa Warga Negara Indonesia yang Independen bersifat bebas aktif dan berwatak kerakyatan.
GMNI adalah Organisasi Mahasiswa yang berwawasan nasional yang tidak membeda-bedakan kesukuan, keagamaan dan status sosial anggotanya, senatiasa menjunjung kesatuan dan persatuan bangsa dan negara dalam perjuangannya.
GMNI adalah Organisasi Mahasiswa yang berkewajiban membela dan mengamalkan Pancasila, senantiasa menjunjung tinggi Kedaulatan Negara di bidang ekonomi, poltik, budaya dan pertahanan keamanan.
GMNI adalah Organisasi Mahasiswa yang berkewajiban menggalang kekuatan nasional yang berjuang tanpa pamrih dalam melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat.
GMNI adalah Pejuang Pemikir dan Pemikir Pejuang yang menjunjung tinggi kedaulatan negara, harkat dan martabat rakyat serta nama dan citra GMNI dalam kata- kata sikap maupun perbuatan.
GMNI adalah Pejuang Pemikir dan Pemikir Pejuang sebagai kader bangsa yang bersikap jujur, senantiasa patuh dan taat kepada amanat dan konstitusi organisasi,  menepati janji dan sumpahke anggotaan.
Anggota GMNI adalah Pejuang Pemikir dan Pemikir pejuang sebagai penuntut ilmu yg bertanggung jawab, bersikap sopan dan menghargai sesamanya.
Anggota GMNI adalah Pejuang Pemikir dan Pemikir pejuang yang tidak menjadikan status sebagai predikat, senantiasa mengejar cita -cita tanpa mengenal menyerah, menunjukkkan kesederhanaan hidup serta menjadi tauladan dalam lingkungannya.
Anggota GMNI adalah Pejuang Pemikir dan Pemikir Pejuang yang bertekad melanjutkan cita - cita Proklamasi dan amanat UUD 1945 dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan sosial.
Anggota GMNI adalah Pejuang Pemikir dan Pemikir Pejuang sebagai insan akademis yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menjunjung tinggi nilai - nilai kemanusiaan dan keadilan dalam pergaulan bangsa - bangsa.
Ikrar  Prasetya Krops Pejuang Pemikir – Pemikir Pejuang
Kami, anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia adalah Pejuang Pemikir - Pemikir Pejuang Indonesia, dan berdasarkan pengakuan ini, Kami mengaku bahwa:
Kami adalah Makhluk ciptaan Tuhan Al-Khalik, dan bersumber serta bertaqwa kepada-Nya.
Kami adalah Warga Negara Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila dan setia kepada cita-cita revolusi 17 Agustus 1945.
Kami adalah Pejuang Indonesia yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, lahir dari rakyat yang berjuang, dan senantiasa siap sedia berjuang untuk dan bersama rakyat, membangun masyarakat Pancasila.
Kami adalah Patriot Indonesia, yang percaya kepada kekuatan diri sendiri, berjiwa optimis dan dinamis dalam perjuangan, senantiasa bertindak setia-kawan kepada sesama kawan seperjuangan.
Kami adalah Mahasiswa Indonesia, penuh kesungguhan menuntut ilmu dan pengetahuan setinggi-tingginya untuk diabdikan kepada kepentingan rakyat dan kesejahteraan umat manusia.
Berdasarkan pengakuan-pengakuan ini, Demi Kehormatan, kami berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban untuk mengamalkan semua pengakuan ini dalam karya hidup kami sehari-hari.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati niat dan tekad kami, dengan taufik dan hidayat-Nya serta dengan inayat-Nya.

PERHATIKAN:
Ikrar ini harus ditandatangani oleh setiap Calon Anggota/ Anggota.
Sebelum membubuhkan tanda-tangan, saudara harus membaca dan merenungkan isi Ikrar ini. Bila saudara sudah berkeyakinan mantap akan dapat melaksanakan isi Ikrar, saudara dipersilahkan untuk mem-print halaman ini guna menandatanganinya, dan segera diserahkan kepada DPC GMNI terdekat.
Bila masih ragu-ragu, saudara agar berdo'a mohon petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa.

Description: E:\poto\GAMBAR\LOGO\Lambang_gmni.jpg

Jumat, 11 Mei 2012

mohon pamit ibu


Karya:Aditia Perdana Habibie






Maafkan aku ibu.

Aku tak mengabarimu saat kepergianku.

Bersama pemuda-pemudi yang berjuang tuk  ibu pertiwi.

Di saat padi ini tak memutih untuk kecukupan hidup.

Dan banyak pula yang tak  mungkin bisa hidup.

Karna tergilas roda tajam si kerah putih itu!.

                 

          Lihatlah masa lalu ibu.

          Kala itu sawah menguning sekedar untuk membungkam kosongnya perut.

          Meski kadang aku bertanya pada tangisan senja.

          Apakah kita dan hidup kita cukup sampai disini?.

          Menggarap sawah,menuai hasil,namun semuanya nihil!.
 


Dari dulu kita memang terhimpit,ibu.
 

Apalah daya seorang miskin di pinggiran desa.

Kita ditunggangi layaknya mesin tak kenal waktu.

Dan kini aku kian sadar,ibu.

Kita semakin tergilas roda tajam itu!.

Bahkan kitapun terhimpit oleh kosongnya perut.

Yang mau tak mau kita harus bertahan hidup!

Bahkan kita harus berebut untuk secuil bulir padi,ibu.

Walau keringat ini berubah menjadi darah.

Dan perlahan kita akan tergilas mati!!

 

                Entah setan apa yang mengkaluti fikiran kerah putih itu,ibu.

                Aku tak tega ibu,aku sungguh tak tega melihat mereka tersiksa.

                Melihat mereka diseret dan diperlakukan seperti hewan najis!

                Lalu siapakah yang saat ini yang layaknya hewan najis,ibu!

 

Maafkan aku ibu.

Relakanlah dan biarkanlah darah juangku,Darah juang kami para pemuda pemudi.

Yang saat ini diujung kebebasan.

Berikan kami restumu,ibu.

Minggu, 29 April 2012

Politik Kampus dan BOYBAND

Dinamika perpolitikan di lingkungan kampus selalu menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Konflik yang muncul justru menjadi pusaran perhatian sehingga menjadi kontrol sistem yang ada. Memang bukan menjadi suatu hal yang kompleks seperti halnya politik di suatu Negara. Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA)  bisa di sebut sebagai miniatur sebuah Negara. Di dalamnya terdapat suatu proses, bagaimana mengatur sebuah negara dengan baik dan benar, sehingga politik kampus menjadi sarana pendewasaan bagi mahasiswa untuk menentukan kepemimpinan yang ideal.

Politik sendiri sebenarnya merupakan Stuggle for Power yang ketahanan kekuatannya dimanfaatkan untuk menguasai sumber-sumber ekonomi. Meski demikian, politik kampus hanya “mampu” diterjemahkan sebagai Struggle for Justice and Welfare yang berjalan simultan. Politik kampus sendiri memiliki tujuan bukan semata-mata kekuasaan, namun sebagai sarana eksistensi maupun aktualisasi diri mahasiswa.

Menjadi seorang aktifis kampus adalah masa di mana penuh dengan konsekuensi terpaan. Di sadari atau tidak, ternyata banyak kenyataan yang tidak bisa dipandang remeh, suasana intrinsik dinamika politik kampus yang cukup terasa. Di kampus ini banyak pelajaran hidup yang berharga (walaupun saya juga gak paham..).

Memulai menjadi mahasiswa yang paling menarik ketika saya menjeburkan diri di BEM dengan polos tanpa noda. Dari situlah saya seakan-akan menemukan dunia “gelap” yang patut diilhami dari seseorang yang berlabel “Agent of Change” suatu bangsa (lebay..!!). Puluhan tahun berkecimpung (membanting tulang, memeras otak, berlinangan air mata) banyak peristiwa menarik tidak hanya seperti kejadian di televisi saja, seperti halnya kontradiksi suatu idiologi dan trik politik praktis suatu golongan.

Di kampus ada fenomena  yang unik dan sangat prinsipel yaitu phobia terhadap segala indikasi yang mengarah pada tindakan spionase sehingga sampai-sampai mengorbankan sisi pertemanan antar mahasiswa itu sendiri (pokoke pertempuran tanpa batas demi satu kata “..”. Itulah hidup, tapi uniknya kehidupan seperti itu malah membuat saya “..” dan semakin dewasa menyikapi permasalahan tanpa sikap yang reaksioner, namun menggunakan analisa yang logis dan kritis tidak hanya dengan balutan retorika semata melainkan dengan aktualisasi nyata . Selain itu, kehidupan “kupu-kupu malam” kolektifitas pun harus ditempuh untuk mendapatkan suatu hal.

Di kampus banyak mahasiswa yang mempunyai bakat di bidang seni. Suara mereka bagus-bagus. Mereka menyanyikan (menyuarakan) aspirasi mahasiswa/rakyat dengan merdu dan penuh penghayatan. Di tambah lagi dengan lirik berbahasa “qalbu”, tentu siapapun yang mendengar akan terkagum. Selain itu, dari kemampuan dance tidak perlu di ragukan lagi. (Per) gerakan mereka sangat lincah dan energik (militan). (biar tambah eksis, bikin BOYBAND yuks..!!)

Keberagaman (heterogenitas) masyarakat kampus tidak jarang menimbulkan konflik. Tapi tidak selamanya, keberagaman akan berujung konflik selama kita menjunjung tinggi rasa kebersamaan. Mengutip pernyataan Via Valen (biduan OM Sera), “Mau loe putih, mau loe ijo, mau loe merah, mau loe kuning, sekalian aku gak peduli. Saatnya kita reformasi diri, bersama kita bisa”. Yang merah biarkan tetap merah, yang putih biarkan tetap putih, yang hijau biarkan tetap hijau. Jangan saling menodai, biarkan kampus ini menjadi berwarna. Semoga warna itu membuat kampus ini menjadi indah.

Mari sama-sama dewasa dalam pemikiran dan sikap. Kita saling melengkapi supaya organisasi di kampus ini menjadi “stereo”. Tidak usah mendiskreditkan suatu golongan, jika kita juga termasuk (golongan yang lain).

Lika-liku dunia persilatan kampus membuat kehidupan saya menjadi berwarna. Hal itu adalah sebuah pengalaman berharga yang akan saya kenang sepanjang masa dan sebagian sebuah masa lalu yang biarlah berlalu.

Salam Mahasiswa..!!

EOP_26/01/12

Resensi Film

Pornografi merupakan bisnis yang besar dan bisa dikatakan  menjadi pemicu masalah moral. Salah satu bentuk pornografi adalah dalam AV (Adult Video). Tidak seperti yang anda  lihat dalam tayangan film dan yang anda bayangkan, ternyata di balik pembuatan film tersebut ada beberapa fakta  mengejutkan yang jarang terexpose kepermukaan. Artisnya mengalami semacam “tekanan” dalam menjalankan profesi tersebut. Pada dasarnya profesi ini bukanlah sebuah profesi yang didasari hobi atau semacamnya, melainkan karena suatu keterpaksaan.

Para artis (pekerja) tersebut terkooptasi dan tereksploitasi oleh para kapitalis (pemilik modal).  Di sini anda janganlah melihat suatu dari luarnya saja karena tidak jarang nilai-nilai yang lebih substansial berada jauh di dalamnya.

Beberapa fakta dalam pembuatan AV (Adult Video) :
  1. Proses pembuatan film bisa memekan waktu 18 jam dalam sehari dan dalam sehari bisa shooting untuk 2 s/d 4 scene yang berbeda.
  2. Saat shooting sangat menyiksa baik secara fisik maupun mental. Sekitar 15 orang ikut di dalam nya mulai sutradara dst (melihat adegan secara langsung). Setiap scene bisa berlangsung berjam-jam tergantung dari aktornya apakah bisa “tampil” sesuai dengan harapan sutradara dan apa si artis yang harus istirahat dulu karena rasa sakit saat melakukan adegan hardcore.
  3. Saat menunggu scene berikutnya biasanya si “pemain” menghabiskan waktu untuk minum-minuman keras atau menggunakan narkoba untuk mengurangi rasa sakit dan malu dalam adegan scene berikutnya.
Kalau kita berbicara AV (Adult Video) kurang lengkap kalau tidak membicarakan Negara Jepang. Industri AV sangar menjamur di Negara ini. Umumnya bisnis ini di kuasai oleh “YAKUZA”. Di Jepang pornografi adalah bisnis yang legal. Namun dalm pengertian legal tersebut di dalamnya terdapat pakem-pakem tertentu yang harus di patuhi, misal di larang memperlihatkan secara transparan alat kelamin dll. Di lihat dari prespektif agama Shinto ( agama mayoritas penduduk Jepang) sebenarnya tidak melarang memperlihatkan alat kelamin, sebagai contoh dalam festifal ” jabate” (membuat patung dari kayu yang melambangkan alat kelamin). Terlepas dari itu di Jepang sangat dilarang memperlihatkan alat kelamin secara transparan  yang di tetapkan dalam hukum Negara.

Marak dan bebasnya peredaran barang-barang pornografi di Jepang ternyata berbanding terbalik dengan relatif  kecilnya prosentase angka kejahatan seksual seperti pemerkosaan. Satu contoh kecil saja seperti pandangan mata nakal, siulan, dan anak muda yang duduk bergerombol mengganggu gadis  yang lewat di jalan tampaknya sangat tidak umum dilakukan di Negara tersebut.

Pornografi bukan sekedar memperlihat tubuh dalam rangka kebebasan ekspresi. Didalamnya ada masalah sosial, budaya, ekonomi, dan agama. Kebebasan memerlukan aturan dan kontrol yang jauh lebih ketat,  dengan kata lain diperlukan kedewasaan dan tanggung jawab pada semua orang. Tanpa di ikuti oleh hal tersebut, maka KEBEBASAN akan menjadi PERCUMA.

Salam Mahasiswa..!!

EOP_ 02/01/12

Senin, 23 April 2012

Sitemap