This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 11 Mei 2012

mohon pamit ibu


Karya:Aditia Perdana Habibie






Maafkan aku ibu.

Aku tak mengabarimu saat kepergianku.

Bersama pemuda-pemudi yang berjuang tuk  ibu pertiwi.

Di saat padi ini tak memutih untuk kecukupan hidup.

Dan banyak pula yang tak  mungkin bisa hidup.

Karna tergilas roda tajam si kerah putih itu!.

                 

          Lihatlah masa lalu ibu.

          Kala itu sawah menguning sekedar untuk membungkam kosongnya perut.

          Meski kadang aku bertanya pada tangisan senja.

          Apakah kita dan hidup kita cukup sampai disini?.

          Menggarap sawah,menuai hasil,namun semuanya nihil!.
 


Dari dulu kita memang terhimpit,ibu.
 

Apalah daya seorang miskin di pinggiran desa.

Kita ditunggangi layaknya mesin tak kenal waktu.

Dan kini aku kian sadar,ibu.

Kita semakin tergilas roda tajam itu!.

Bahkan kitapun terhimpit oleh kosongnya perut.

Yang mau tak mau kita harus bertahan hidup!

Bahkan kita harus berebut untuk secuil bulir padi,ibu.

Walau keringat ini berubah menjadi darah.

Dan perlahan kita akan tergilas mati!!

 

                Entah setan apa yang mengkaluti fikiran kerah putih itu,ibu.

                Aku tak tega ibu,aku sungguh tak tega melihat mereka tersiksa.

                Melihat mereka diseret dan diperlakukan seperti hewan najis!

                Lalu siapakah yang saat ini yang layaknya hewan najis,ibu!

 

Maafkan aku ibu.

Relakanlah dan biarkanlah darah juangku,Darah juang kami para pemuda pemudi.

Yang saat ini diujung kebebasan.

Berikan kami restumu,ibu.

Minggu, 29 April 2012

Politik Kampus dan BOYBAND

Dinamika perpolitikan di lingkungan kampus selalu menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Konflik yang muncul justru menjadi pusaran perhatian sehingga menjadi kontrol sistem yang ada. Memang bukan menjadi suatu hal yang kompleks seperti halnya politik di suatu Negara. Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA)  bisa di sebut sebagai miniatur sebuah Negara. Di dalamnya terdapat suatu proses, bagaimana mengatur sebuah negara dengan baik dan benar, sehingga politik kampus menjadi sarana pendewasaan bagi mahasiswa untuk menentukan kepemimpinan yang ideal.

Politik sendiri sebenarnya merupakan Stuggle for Power yang ketahanan kekuatannya dimanfaatkan untuk menguasai sumber-sumber ekonomi. Meski demikian, politik kampus hanya “mampu” diterjemahkan sebagai Struggle for Justice and Welfare yang berjalan simultan. Politik kampus sendiri memiliki tujuan bukan semata-mata kekuasaan, namun sebagai sarana eksistensi maupun aktualisasi diri mahasiswa.

Menjadi seorang aktifis kampus adalah masa di mana penuh dengan konsekuensi terpaan. Di sadari atau tidak, ternyata banyak kenyataan yang tidak bisa dipandang remeh, suasana intrinsik dinamika politik kampus yang cukup terasa. Di kampus ini banyak pelajaran hidup yang berharga (walaupun saya juga gak paham..).

Memulai menjadi mahasiswa yang paling menarik ketika saya menjeburkan diri di BEM dengan polos tanpa noda. Dari situlah saya seakan-akan menemukan dunia “gelap” yang patut diilhami dari seseorang yang berlabel “Agent of Change” suatu bangsa (lebay..!!). Puluhan tahun berkecimpung (membanting tulang, memeras otak, berlinangan air mata) banyak peristiwa menarik tidak hanya seperti kejadian di televisi saja, seperti halnya kontradiksi suatu idiologi dan trik politik praktis suatu golongan.

Di kampus ada fenomena  yang unik dan sangat prinsipel yaitu phobia terhadap segala indikasi yang mengarah pada tindakan spionase sehingga sampai-sampai mengorbankan sisi pertemanan antar mahasiswa itu sendiri (pokoke pertempuran tanpa batas demi satu kata “..”. Itulah hidup, tapi uniknya kehidupan seperti itu malah membuat saya “..” dan semakin dewasa menyikapi permasalahan tanpa sikap yang reaksioner, namun menggunakan analisa yang logis dan kritis tidak hanya dengan balutan retorika semata melainkan dengan aktualisasi nyata . Selain itu, kehidupan “kupu-kupu malam” kolektifitas pun harus ditempuh untuk mendapatkan suatu hal.

Di kampus banyak mahasiswa yang mempunyai bakat di bidang seni. Suara mereka bagus-bagus. Mereka menyanyikan (menyuarakan) aspirasi mahasiswa/rakyat dengan merdu dan penuh penghayatan. Di tambah lagi dengan lirik berbahasa “qalbu”, tentu siapapun yang mendengar akan terkagum. Selain itu, dari kemampuan dance tidak perlu di ragukan lagi. (Per) gerakan mereka sangat lincah dan energik (militan). (biar tambah eksis, bikin BOYBAND yuks..!!)

Keberagaman (heterogenitas) masyarakat kampus tidak jarang menimbulkan konflik. Tapi tidak selamanya, keberagaman akan berujung konflik selama kita menjunjung tinggi rasa kebersamaan. Mengutip pernyataan Via Valen (biduan OM Sera), “Mau loe putih, mau loe ijo, mau loe merah, mau loe kuning, sekalian aku gak peduli. Saatnya kita reformasi diri, bersama kita bisa”. Yang merah biarkan tetap merah, yang putih biarkan tetap putih, yang hijau biarkan tetap hijau. Jangan saling menodai, biarkan kampus ini menjadi berwarna. Semoga warna itu membuat kampus ini menjadi indah.

Mari sama-sama dewasa dalam pemikiran dan sikap. Kita saling melengkapi supaya organisasi di kampus ini menjadi “stereo”. Tidak usah mendiskreditkan suatu golongan, jika kita juga termasuk (golongan yang lain).

Lika-liku dunia persilatan kampus membuat kehidupan saya menjadi berwarna. Hal itu adalah sebuah pengalaman berharga yang akan saya kenang sepanjang masa dan sebagian sebuah masa lalu yang biarlah berlalu.

Salam Mahasiswa..!!

EOP_26/01/12

Resensi Film

Pornografi merupakan bisnis yang besar dan bisa dikatakan  menjadi pemicu masalah moral. Salah satu bentuk pornografi adalah dalam AV (Adult Video). Tidak seperti yang anda  lihat dalam tayangan film dan yang anda bayangkan, ternyata di balik pembuatan film tersebut ada beberapa fakta  mengejutkan yang jarang terexpose kepermukaan. Artisnya mengalami semacam “tekanan” dalam menjalankan profesi tersebut. Pada dasarnya profesi ini bukanlah sebuah profesi yang didasari hobi atau semacamnya, melainkan karena suatu keterpaksaan.

Para artis (pekerja) tersebut terkooptasi dan tereksploitasi oleh para kapitalis (pemilik modal).  Di sini anda janganlah melihat suatu dari luarnya saja karena tidak jarang nilai-nilai yang lebih substansial berada jauh di dalamnya.

Beberapa fakta dalam pembuatan AV (Adult Video) :
  1. Proses pembuatan film bisa memekan waktu 18 jam dalam sehari dan dalam sehari bisa shooting untuk 2 s/d 4 scene yang berbeda.
  2. Saat shooting sangat menyiksa baik secara fisik maupun mental. Sekitar 15 orang ikut di dalam nya mulai sutradara dst (melihat adegan secara langsung). Setiap scene bisa berlangsung berjam-jam tergantung dari aktornya apakah bisa “tampil” sesuai dengan harapan sutradara dan apa si artis yang harus istirahat dulu karena rasa sakit saat melakukan adegan hardcore.
  3. Saat menunggu scene berikutnya biasanya si “pemain” menghabiskan waktu untuk minum-minuman keras atau menggunakan narkoba untuk mengurangi rasa sakit dan malu dalam adegan scene berikutnya.
Kalau kita berbicara AV (Adult Video) kurang lengkap kalau tidak membicarakan Negara Jepang. Industri AV sangar menjamur di Negara ini. Umumnya bisnis ini di kuasai oleh “YAKUZA”. Di Jepang pornografi adalah bisnis yang legal. Namun dalm pengertian legal tersebut di dalamnya terdapat pakem-pakem tertentu yang harus di patuhi, misal di larang memperlihatkan secara transparan alat kelamin dll. Di lihat dari prespektif agama Shinto ( agama mayoritas penduduk Jepang) sebenarnya tidak melarang memperlihatkan alat kelamin, sebagai contoh dalam festifal ” jabate” (membuat patung dari kayu yang melambangkan alat kelamin). Terlepas dari itu di Jepang sangat dilarang memperlihatkan alat kelamin secara transparan  yang di tetapkan dalam hukum Negara.

Marak dan bebasnya peredaran barang-barang pornografi di Jepang ternyata berbanding terbalik dengan relatif  kecilnya prosentase angka kejahatan seksual seperti pemerkosaan. Satu contoh kecil saja seperti pandangan mata nakal, siulan, dan anak muda yang duduk bergerombol mengganggu gadis  yang lewat di jalan tampaknya sangat tidak umum dilakukan di Negara tersebut.

Pornografi bukan sekedar memperlihat tubuh dalam rangka kebebasan ekspresi. Didalamnya ada masalah sosial, budaya, ekonomi, dan agama. Kebebasan memerlukan aturan dan kontrol yang jauh lebih ketat,  dengan kata lain diperlukan kedewasaan dan tanggung jawab pada semua orang. Tanpa di ikuti oleh hal tersebut, maka KEBEBASAN akan menjadi PERCUMA.

Salam Mahasiswa..!!

EOP_ 02/01/12

Senin, 23 April 2012

Sitemap

Kamis, 19 April 2012

Manifesto GMNI UNIK

Manifesto GMNI Unik

Inilah dunia kami,
dunia Organisator dan Pejuang,
beauty of the view,
Kalian menyebut kami penjahat,
karena kami menjadi diri sendiri,
kalian sebut kami penjahat,
karena kami mengkritiki masalah pelayanan dan kebijakan,
yang seharusnya layanan itu sangatlah murah jika tidak dikuasai oleh orang-orang rakus.
Kami kalian sebut penjahat..
karena kami gemar menjelajah
Kami kalian sebut penjahat…
karena kami mengejar ilmu pengetahuan.

kami ada tanpa mengejar ilmu pegetahuan.
Kami ada tanpa warna kulit,
tanpa etnis dan suku,
tanpa bias agama..
tapi bagi kalian kami penjahat.

Kami adalah penjahat...
sedangkan kalianlah yang membuat bom nuklir,mengobarkan peperangan,membunuh,berbuat curang,berbohong,dan berusaha membuat kami percaya bahwa itu semua demi kebaikan kami.

Ya,aku adalah penjahat.
Kejahatanku adalah keingintahuanku.
Kejahatanku adalah menilai orang berdasarkan perkataan dan pikiran mereka,
dan bukan berdasarkanpenampilan mereka,
Kejahatannku adalah menjadi lebih pintar dari kalian,
sebuah dosa yang tak akan bisa kalian ampuni
Aku adalah GMNI,dan inilah menifestoku.
Kau bisa menghentikan satu,tapi kau tak bisa menghentikan semuanya…
bagaimanapun juga,kami semua sama

Dari Ibu Seorang Demonstran


Dari Ibu Seorang Demonstran

Ibu telah merelakan kalian
Untuk berangkat demonstrasi
Karena kalian pergi menyempurnakan
Kemerdekaan negeri ini"

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada
Atau gas airmata
Tapi langsung peluru tajam
Tapi itulah yang dihadapi
Ayah kalian almarhum
Delapan belas tahun yang lalu

Pergilah pergi, setiap pagi
Setelah dahi dan pipi kalian
Ibu ciumi
Mungkin ini pelukan penghabisan
(Ibu itu menyeka sudut matanya)

Tapi ingatlah, sekali lagi
Jika logam itu memang memuat nama kalian
(Ibu itu tersedu sedan)

Ibu relakan
Tapi jangan di saat terakhir
Kau teriakkan kebencian
Atau dendam kesumat
Pada seseorang
Walapun betapa zalimnya
Orang itu

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah
Di atas bumi kita ini
Sebelum kalian melangkah setiap pagi
Sunyi dari dendam dan kebencian
Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan
Serta rasul kita yang tercinta

pergilah pergi
Iwan, Ida dan Hadi
Pergilah pergi
Pagi ini

(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta
Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka
Dan berangkatlah mereka bertiga
Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)

Pidato Seorang Demonstran




Mereka telah tembak teman kita
ketika mendobrak sekretariat negara
sekarang jelas bagi saudara
sampai mana kebenaran hukum di Indonesia

Ketika kesukaran tambah menjadi
para menteri sibuk ke luar negeri
tapi korupsi tetap meraja
sebab percaya keadaan berubah
rakyat diam saja

Ketika produksi negara kosong
para pemimpin asyik ngomong
tapi harga-harga terus menanjak
sebab percaya diatasi dengan mupakat
rakyat diam saja

Di masa gestok rakyat dibunuh
para menteri saling menuduh
kaum penjilat mulai beraksi
maka fitnah makin berjangkit
toh rakyat masih terus diam saja

Mereka diupah oleh jerih orang tua kita
tapi tak tahu cara terima kasih, bahkan memfitnah
Kita dituduh mendongkel wibawa kepala negara
apakah kita masih terus diam saja?